Thursday, April 13, 2017

Tes Sederhana untuk Menghitung Panjang Usia

Umur adalah rahasia Tuhan yang tidak seorang pun dapat mengetahuinya dengan pasti. Terkadang ada orang yang kelihatannya sehat-sehat saja tapi tiba-tiba meninggal karena penyakit kronis dan sebaliknya ada yang sudah menderita penyakit cukup lama tapi tidak meninggal juga.


Meski demikian manusia dapat memprediksi panjang usia seseorang berdasarkan tingkat kesehatannya di masa lalu dan masa kini. Orang yang menjalani gaya hidup sehat secara statistik diketahui memiliki potensi berumur panjang.

Di artikel kali ini kita akan mempelajari sebuah tes sederhana yang dapat memprediksi usia berdasarkan kemampuan kita melakukan sejumlah gerakan.

Seorang dokter di Brasil menemukan tes sederhana untuk memprediksi berapa lama usia seseorang. Tes yang dinamakan Sitting Rising Test (SRT), alias tes duduk berdiri ini telah terbukti bisa memperkirakan risiko kematian seseorang dalam lima tahun ke depan.

Dr.Claudio GIl Araujo, PhD, spesialis olahraga dan kedokteran olahraga, adalah orang yang menemukan tes yang mudah, cepat, dan bisa dilakukan di mana saja ini. Cara melakukan tes SRT ini sederhana. Cukup sediakan alas duduk di lantai sekaligus pengaman apabila kita terjatuh saat akan berdiri.

Caranya dimulai dengan duduk bersila di atas matras. Lalu, kita harus berdiri tanpa memikirkan seberapa cepat hal itu bisa dilakukan. Yang diamati cuma seberapa banyak bantuan yang diperlukan untuk bisa berdiri.

Jika kita bisa mengubah posisi dari posisi bersila ke posisi berdiri tanpa bantuan, maka poinnya adalah 5. Kembali lagi ke posisi awal poinnya 5. Tetapi jika kita menggunakan bantuan, baik itu tangan, jari, atau lutut, untuk menopang saat kita duduk atau berdiri, maka setiap jenis bantuan itu akan mengurangi masing-masing 5 poin. Mendorong badan saat berdiri juga mengurangi poin.

Untuk setiap poin yang Anda dapatkan, maka kemungkinan penurunan risiko kematian sebesar 21 persen. Skor 3 atau kurang maka risiko kematiannya akan lebih besar.

Menurut Araujo, ia mendapatkan ide membuat tes SRT setelah mengamati pasien-pasiennya yang berusia tua atau yang gaya hidupnya lebih banyak duduk, namun bisa melakukan tes aerobik.

"Kebanyakan dari mereka juga mampu bersepeda atau berlari di treadmill. Tetapi jika mereka diminta mengikat tali sepatunya, mereka kesulitan. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya kebugaran aerobik yang penting. Kita juga harus memiliki hal lain, yakni kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan," katanya.

Hasil pengamatan terhadap 2.000 laki-laki paruh baya, telah membuktikan keyakinan tersebut. Dalam pengamatan selama enam tahun, partisipan yang mampu berdiri dari posisi duduk tanpa bantuan tangan atau benda lain, cenderung hidup lebih lama dibandingkan yang lain.

Selama penelitian berlangsung, 159 orang partisipan akhirnya meninggal dunia dengan tingkat kematian rata-rata 7,9 persen.

Partisipan yang butuh banyak bantuan untuk berdiri memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bisa melakukannya tanpa bantuan.