Wednesday, April 5, 2017

Biadab, Gas Beracun Mematikan Ditebar di Suriah: Inilah Enam Hal yang Perlu Anda Ketahui

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights, SOHR) melaporkan bahwa serangan terhadap Khan Sheikhoun yang dilancarkan oleh pemerintah Suriah atau jet Rusia telah menyebabkan banyak orang tersedak.

Sesudah itu, pesawat menembakkan roket ke klinik yang mengobati korban, kata petugas medis dan aktivis.

Tentara Suriah membantah bahwa pemerintah menggunakan senjata kimia seperti itu.

Inggris, PBB dan Perancis, mengutuk insiden, yang jika dikukuhkan, akan menjadi salah satu serangan kimia paling mematikan dalam perang saudara Suriah.
Dewan Keamanan PBB, hari Rabu (05/04) akan menggelar sidang darurat terkait serangan ini.

Inilah sejumlah hal yang perlu Anda ketahui tentang serangan kimia itu.


Apa yang dilihat saksi
  • Sejumlah pesawat tempur dilaporkan menyerang daerah yang dikuasai pemberontak, Khan Sheikhoun, sekitar 50km arah selatan dari kota Idlib, Selasa pagi, ketika banyak orang masih tidur.
  • Hussein Kayal, seorang fotografer untuk Edlib Media Center (EMC) yang pro oposisi mengatakan kepada Associated Press bahwa ia dibangunkan oleh suara ledakan pada sekitar pukul 06:30 (09:30 WIB)
  • Ketika sampai di lokasi kejadian, tidak tercium bau, katanya, dan ia menemukan orang tergeletak di lantai, tidak bisa bergerak dan dengan mata membelalak
  • Mohammed Rasoul, kepala lembaga layanan ambulans di Idlib mengatakan kepada BBC bahwa para petugas medisnya menemukan orang-orang di jalanan yang tersedak, sebagian anak-anak
  • Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), mengutip petugas medis yang merawat orang-orang pingsan, muntah dan berbusa mulutnya
  • Seorang wartawan AFP melihat seorang gadis muda, seorang perempuan dan dua orang tua tewas di rumah sakit, semua dengan busa masih terlihat di sekitar mulut mereka
  • Wartawan juga melaporkan bahwa rumah sakit itu terkena roket pada Selasa sore, mengakibatkan jatuhnya puing-puing ke badan dokter yang sedang mengobati korban yang terluka.
  • Sumber proyektil tidak jelas, tapi EMC dan jaringan Komite Koordinasi Lokal (LCC) yang beroposisi mengatakan pesawat-pesawat tempur menyasar beberapa klinik.
  • Wartawan pro-pemerintah kemudian mengutip sumber militer mengatakan telah terjadi ledakan di sebuah pabrik senjata kimia al-Qaeda di Khan Sheikhoun yang penyebabnya bisa oleh serangan udara atau kecelakaan.
  • Kementerian pertahanan Rusia, sekutu Presiden Assad, bersikeras mereka tidak melakukan serangan udara apa pun di daerah itu.


Berapa banyak korban jatuh?

SOHR menyebutkan korban tewas sejumlah 58 orang, termasuk 11 anak-anak, tapi Moh. Rasoul melaporkan bahwa yang tewas adalah 67 orang dan 300 orang luka-luka.

Lembaga pemberitaan pro-oposisi, Step, mengatakan 100 meninggal.

Salah satu badan bantuan, Uni Perawatan Medis dan Organisasi-organisasi Bantuan (UOSSM), menyebutkan korban tewas lebih dari 100.

EMC mengatakan sudah berhenti menghitung korban karena terlalu banyak.

Apa zat yang digunakan?

SOHR mengatakan tidak dapat memastikan apa sebenarnya zat kimia yang dijatuhkan.

Namun, EMC dan LCC meyakini bahwa yang digunakan adalah zat saraf Sarin, yang sangat beracun dan dianggap 20 kali lebih mematikan dibanding sianida.

Ahli senjata kimia Dan Kaszeta mengatakan bahwa untuk menentukan apakah benar Sarin digunakan hanya dengan memeriksa video klip, sangat susah.

Dia menambahkan bahwa serangan itu bisa merupakan hasil dari bahan kimia apa pun karena semua zat kimia cenderung “menimbulkan efek fisiologis yang sama pada tubuh manusia.”

Sarin hampir mustahil untuk dideteksi karena bening, tidak berwarna dan tidak mengandung rasa, serta dalam bentuknya yang paling murni, tidak memiliki bau.

Tentara Suriah, dalam sebuah pernyataan yang diposting di kantor berita negara Sana, mengatakan tidak pernah dan tidak akan pernah menggunakan gas beracun.

Pernahkah Sarin digunakan di Suriah sebelumnya?

Negara-negara barat menuduh bahwa pada Agustus 2013, pemerintah Suriah menembakkan roket yang diisi dengan Sarin ke sebuah daerah yang dikuasai pemberontak di pinggiran Damaskus, menewaskan ratusan orang.

Presiden Assad membantah tuduhan itu, dan justru menyalahkan pemberontak, tetapi dia kemudian setuju untuk menghancurkan persenjataan kimia Suriah.

Meskipun demikian, Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) masih tetap mencatat berbagai penggunaan bahan kimia beracun dalam serangan di Suriah.

Pada bulan Januari 2016, lembaga itu mengatakan sampel darah yang diambil dari korban satu serangan menunjukkan korban telah terkena Sarin atau zat seperti Sarin.
Penggunaan kimia lain yang dilaporkan:

    Sebuah investigasi bersama dengan PBB menyimpulkan pada Oktober lalu bahwa pasukan pemerintah menggunakan klorin sebagai senjata setidaknya tiga kali antara tahun 2014 dan 2015
    Mereka juga menemukan bahwa kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS telah menggunakan zat kimia yang melepuhkan kulit, sulfur mustard
    Human Rights Watch juga baru-baru ini menuduh helikopter pemerintah menjatuhkan bom yang mengandung klorin ke daerah yang dikuasai pemberontak di Aleppo

Bagaimana reaksi sejauh ini?
“Sekali lagi rezim Suriah akan menyangkal bukti dari keterlibatannya dalam pembantaian ini,” kata Presiden Prancis Francois Hollande

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa Presiden Bashar al-Assad akan dinyatakan bersalah untuk kejahatan perang jika terbukti rezimnya bertanggung jawab atas serangan itu